Kategori
Fiqih Ibadah Zakat

Harta Rikaz Adalah: Pengertian, Nisab, Zakat, Dan Cara Menghitung nya

Sebarkan Kebaikan!

Harta Rikaz Adalah: Pengertian, Nisab, Zakat, Dan Cara Menghitung nya

Al-Rikaz adalah harta yang ditemukan di beberapa reruntuhan atau di beberapa gurun dari pemakaman pra-Islam, baik emas, perak, pot, senjata, atau dana lainnya, yang terkubur di dalam tanah.

Pengertian Harta Rikaz Adalah Sebagai Berikut:

Rikaz adalah semua harta yang berasal dari penguburan orang-orang zaman pra-Islam, (lihat mausuáh harroh)

Penemuan rikaz bisa di beberapa reruntuhan atau di beberapa gurun dari pemakaman pra-Islam, baik emas, perak, pot, senjata, atau dana lainnya, yang terkubur di dalam tanah.

Penamaan rikaz adalah karena tertimbun di dalam tanah, artinya terkubur di dalamnya,

rikaz dalam bahasa arab arti nya markuz (tertimbun), artinya yang terkubur di dalam tanah bukan karena penambangan.

Pengertian rikaz menurut mayoritas ulama (malikiyyah, hanabilah dan syafiíyyah) adalah:

semua harta yang di ketahui berasal dari timbunan orang-orang zaman pra-Islam.

dan di sebut juga untuk segala sesuatu yang berupa harta dan segala jenis nya,

Kecuali, mazhab syafií hanya mengkhususkan harta berupa emas dan perakn dan tidak dengan harta lainnya.

Adapun rikaz menurut mazhab Hanafi:

Adalah untuk merujuk pada sesuatu yang lebih umum yaitu baik yang menimbunnya Alloh subhanahu wataála atau makhluk, maka mencakup juga tambang dan harta timbunan.

Dengan demikian, bisa di ketahui bahwa tidak ada cara khusus yang benar untuk mengeluarkannya,

melainkan barang siapa yang menemukannya di tanahnya, maka penilaiannya berdasarkan apa yang akan kita sebutkan berikut.

Baca juga: Apakah Yang Dimaksud Zakat Mal?

Zakat Rikaz Berapa Persen?

Jika harta rikaz di temukan di selain negeri kaum muslimin, maka itu nama nya rikaz, jika di negri kaum muslimin maka ada perinciannya.

BACA JUGA:  Mengapa Zakat Fitrah Juga Disebut Dengan Zakat Nafs?

Zakat harta karun berapa persen?

Zakat nya seperlima (1/5) jika orang yang menemukannya mendapati tanda yang menunjukkan bahwa itu timbunan jahiliyah, seperti nama beberapa raja mereka, misalnya.

Jika penemuannya mengindikasikan bahwa harta tersebut milik kaum muslimin, maka hukum nya adalah luqotoh dan bukan rikaz.

Dan empatperlima nya (4/5) adalah untuk orang yang menemukannya,

lalu seperlima sisa nya sebagai ghonimah dan langsung diserahkan ke waliyyul amr (pemerintah).

Baca juga: Berapa Persen Zakat Dari Gaji Bulanan?

Pendapat Ulama Tentang Harta Rikaz Adalah Sebagai Berikut:

قال ابن قدامة في المغني(الركاز الذي يتعلق به وجوب الخمس ما كان من دفن الجاهلية. هذا قول الحسن، والشعبي، ومالك والشافعي، وأبي ثور، ويعتبر ذلك بأن ترى عليه علاماتهم كأسماء ملوكهم، وصورهم وصلبهم، وصور أصنامهم، ونحو ذلك، فإن كان عليه علامة الإسلام أو اسم النبي صلى الله عليه وسلم أو أحد من خلفاء المسلمين أو وال لهم، أو آية من قرآن أو نحو ذلك فهو لقطة، لأنه ملك مسلم لم يعلم زواله عنه، وإن كان على بعضه علامة الإسلام وعلى بعضه علامة الكفر، فكذلك نص عليه أحمد في رواية ابن المنصور، لأن الظاهر أنه صار إلى مسلم، ولم يعلم زواله عن ملك المسلمين فأشبه ما على جميعه علامة المسلمين.

Berdasarkan perkataan ibnu qudamah di atas maka :

  • Menurut jumhur (mayoritas ulama) : Rikaz adalah setiap timbunan harta jahiliyyah atau pra-islam, di antara ciri nya; nama raja, gambar salib, atau ada gambar shonam.
  • Jika harta temuan ada ciri-ciri bahwa itu adalah harta kaum muslimin, seperti: punya ciri khas islam, atau nama nabi shallallohu álaihi wasallam, wali kaum muslimin, ayat alqur’an, maka hukum nya luqotoh (harta temuan)
  • Jika harta temuan ada beberapa ciri islam dan non-islam, seperti ada koin dari zaman islam dan pra-islam, maka hukum nya serupa dengan harta kaum muslimin dan hukum nya adalah RIKAZ.
  • Menurut hanafiyyah: Rikaz adalah semua harta yang menimbunnya Alloh subhanahu wataála atau makhluk, maka mencakup juga tambang, harta temuan dan harta timbunan.

Baca juga: Zakat Hasil Pertanian, Buah-Buahan dan Perkebunan

Hukum Zakat Rikaz

Harta rikaz milik penemu nya sebagai harta ghonimah dan wajib mengeluarkan zakat nya 1/5 dari total rikaz kepada baitul mal.

BACA JUGA:  Berikut Yang Bukan Merupakan Harta Yang Wajib Dizakati Adalah

Dalil pertama zakat rikaz

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
[الأنفال: 41]

“Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang,

maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil,

(demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan,

yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 41)

Sisi pendalilannya:

Bahwa harta orang kafir non-dzimmi (yang boleh diperangi) orang yang menemukannya maka dia lah yang paling berhak.

Dan ia wajib mengeluarkan zakat nya 1/5 dari rikaz.

Baca juga: Zakat Mal Berapa Persen? Dan Berapa Nisab nya?

Dalil kedua zakat rikaz

عن أبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عنه، أنَّ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّم قال: ((العَجْماءُ جُبارٌ، والبِئر جُبارٌ، والمَعدِنُ جُبارٌ، وفي الرِّكازِ الخُمُسُ  ))

Dari Abu hurairoh rodhiallohu ánhu bahwa Nabi shallallohu álaihi wasallam bersabda:

“Hewan ternak yang lepas dari pengawasan pemilik nya bukan karena kelalaian jika ia menyebabkan kerusakan maka pemilik nya tidak menanggung,

Sumur galian di tanah pribadi atau tanah mati tak berpenghuni yang menyebabkan kerusakan atau seseorang terbunuh karena melewati nya maka pemilik nya tidak wajib menanggung,

Tambang galian di tanah pribadi atau tanah mati tak berpenghuni yang menyebabkan kerusakan atau seseorang terbunuh karena melewati nya maka pemilik nya tidak wajib menanggung,

Dan dalam harta rikaz, wajib mengeluarkan zakat nya 1/5.”[1]

Baca juga: Macam-Macam Zakat Yang Wajib Dan Nisab nya

Dalil ketiga zakat harta rikaz

Para ulama menukilkan ijma’ atau konsensus seperti: Abu Obaid Al-Qasim bin Salam[2], Ibn Al-Mundhir[3], Al-Baghawi[4], Ibn Qudamah[5], dan Ibn Taymiyyah[6].

BACA JUGA:  Nisab Zakat Perak Adalah

Nisab Zakat Rikaz

Tidak ada nisab untuk zakat rikaz, yang merupakan pandangan mayoritas ulama:

Hanafi[7], Maliki[8], Hanbali[9], dan ucapan al-Syafi’i[10] di masa lalu (qoul qodim), dan ini adalah pendangan menurut sebagian besar ulama[11].

Dalil nya adalah:

Hadits abu hurairoh yang kita sebutkan di atas

Dan sisi pendalilannya:

  1. Makna umum hadits tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan keharusan khumus dalam rikaz antara mencapai nisab atau tidak.

  2. Rikaz adalah harta yang wajib dikeluarkan seperlima nya secara mutlak maka tidak ada nisab nya, seperti ghanimah (harta rampasan perang).
  3. Sesungguh nya rikaz adalah harta orang kafir non-dzimmi, maka mirip harta ghanimah yang mudah mendapatkannya, adapun tambang dan pertanian membutuhkan tenaga dan pekerja maka nisab bagi kedua nya sebagai bentuk keringanan.

Dan zakat rikaz, muzakki menyerahkannya kepada pihak berwajib atau baitul mal, kemudian diserahkan kepada 8 orang yang berhak menerima zakat

 

Rujuk ke artikel pilar dari bab zakat mal di sini :

Zakat Mal: Pengertian, Hukum, Macam-Macam, Dan Dalil nya


  1. رواه البخاري (1499)، ومسلم (171).
  2. ((الأموال)) (ص: 430).
  3. ((المجموع)) (6/91), ((الإجماع)) (ص: 46)
  4. ((شرح السنة)) (6/59).
  5. ((المغني)) (3/48), (3/51)
  6. ((مجموع الفتاوى)) (29/376).
  7. ((المبسوط)) للسرخسي (3/4)، ((تبيين الحقائق)) للزيلعي و((حاشية الشلبي)) (1/288).
  8. ((الشرح الكبير)) للشيخ الدردير و((حاشية الدسوقي)) (1/490)، ويُنظر: ((الذخيرة)) للقرافي (3/67).
  9. ((كشَّاف القناع)) للبهوتي (2/226)، ويُنظر: ((المغني)) لابن قدامة (3/48، 51).
  10. ((البيان في مذهب الإمام الشافعي)) للعمراني (3/346)، ((المجموع)) للنووي (6/99).
  11. قال ابنُ المُنْذِرِ: (وبه قال جملةُ أهل العِلم) ((الإشراف)) (3/49).

Oleh Abdurrohman Ahmad Mubarok, S.H.

7 Tahun bergelut dalam bidang fiqih semakin menyadari nikmat nya belajar fiqih, dari mengambil faidah hukum dari dalil hingga bagaimana sikap kita ketika ada dalil yang zahir nya bertolak belakang sampai yang rancu.

Semua itu tidak lain untuk mencari mana yang lebih dekat kepada kebenaran tanpa menyalahkan pendapat orang lain yang memiliki pendapat berbeda dengan dalil yang berbeda